<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>TOMBO STRESS</title>
	<atom:link href="http://serengan2.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://serengan2.wordpress.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Thu, 22 Apr 2010 08:51:43 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='serengan2.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>TOMBO STRESS</title>
		<link>http://serengan2.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://serengan2.wordpress.com/osd.xml" title="TOMBO STRESS" />
	<atom:link rel='hub' href='http://serengan2.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>WAWASAN NUSANTARA</title>
		<link>http://serengan2.wordpress.com/2010/04/22/wawsan-nusantara/</link>
		<comments>http://serengan2.wordpress.com/2010/04/22/wawsan-nusantara/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 22 Apr 2010 08:50:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Danang</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://serengan2.wordpress.com/2010/04/22/wawsan-nusantara/</guid>
		<description><![CDATA[BAB I Pendahuluan Latar Belakang. Kehidupan manusia di dunia mempunyai kedudukan sebagai hamba Tuhan Yang Maha Esa dan sebagai wakil Tuhan (Khalifatullah) di bumi yang menerima amanat-NYA untuk mengelola kekayaan alam. Adapun sebagai wakil Tuhan di bumi, manusia dalam hidupnya berkewajiban memelihara dan memanfaatkan segenap karunia kekayaan alam dengan sebaik–baiknya untuk kebutuhan hidupnya. Manusia dalam [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=serengan2.wordpress.com&amp;blog=5347431&amp;post=82&amp;subd=serengan2&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>BAB I Pendahuluan</p>
<p>Latar Belakang.</p>
<p>Kehidupan manusia di dunia mempunyai kedudukan sebagai hamba Tuhan Yang Maha Esa dan sebagai wakil Tuhan (Khalifatullah) di bumi yang menerima amanat-NYA untuk mengelola kekayaan alam. Adapun sebagai wakil Tuhan di bumi, manusia dalam hidupnya berkewajiban memelihara dan memanfaatkan segenap karunia kekayaan alam dengan sebaik–baiknya untuk kebutuhan hidupnya. Manusia dalam menjalankan tugas dan kegiatan hidupnya bergerak dalam dua bidang yaitu universal filosofis dan sosial politis. Bidang universal filosofis bersifat transeden dan idealistik misalnya dalam bentuk aspirasi bangsa, pedoman hidup dan pandangan hidup bangsa. Aspirasi bangsa ini menjadi dasar wawasan nasional bangsa Indonesia dalam kaitannya dengan wilayah Nusantara. Sebagai negara kepulauan dengan masyarakatnya yang berbhineka, negara Indonesia memiliki unsur–unsur kekuatan sekaligus kelemahan. Kekuatannya terletak pada posisi dan keadaan geografi yang strategis dan kaya akan sumber daya alam (SDA). Sementara kelemahannya terletak pada wujud kepulauan dan keanekaragaman masyarakat yang harus disatukan dalam satu bangsa, satu negara dan satu tanah air. Dalam kehidupannya, bangsa Indonesia tidak terlepas dari pengaruh interaksidan interelasi dengan lingkungan sekitarnya (regional atau internasional). Dalam hal ini bangsa Indonesia memerlukan prinsip–prinsip dasar sebagai pedoman agar tidak terombang–ambing dalam memperjuangkan kepentingan nasional untuk mencapai cita–cita serta tujuan nasionalnya. Salah satu pedoman bangsa Indonesia wawasan nasional yang berpijak pada wujud wilayah nusantara sehingga disebut WAWASAN NUSANTARA. Karena hanya dengan upanya inilah bangsa dan negara Indonesia tetap eksis dan dapat melanjutkan perjuangan menuju mayarakat yang adil, dan sentosa.</p>
<p>BAB II ISI 1.1. Pengertian Wawasan Nusantara. Setiap bangsa mempunyai wawasan nasional (national outlook) yang merupakan visi bangsa yang bersangkutan meneju ke masa depan. Adapun wawasan nasional bangsa Indonesia di kenal dengan Wawasan Nusantara. Istilah wawasan nusantara terdiri dari dua buah kata yakni wawasan dan nusantara. Wawasan berasal dari kata ‘wawas’ yang berarti pandangan, tinjauan atau penglihatan inderawi. Akar kata ini membentuk kata ‘mawas’ yang berarti memandang, meninjau atau melihat. Sehingga wawasan dapat berarti cara pandang, cara meninjau, atau cara melihat. Sedangkan Nusantara berasal dari kata ‘nusa’ yang berarti pulau – pulau, dan ‘antara’ yang berarti diapit di antara dua hal (dua benua yaitu benua Asia dan benua Australia serta dua samudera yakni samudera Pasifik dan samudera Hindia). Berdasarkan teori-teori tentang wawasan, latar belakang falsafah pancasila, latar belakang pemikiran aspek kewilayahan, aspek sosial budaya, dan aspek kesejarahan, terbetuklah satu wawasan nasional indonesia yang disebut wawasan nusantara dengan rumusan pengertian yang sampai ini berkembang sebagai berikut: 1. Pengertian wawasan nusantara berdasarkan ketetapan majelis permusyawarahan rakyat tahun 1993 dan 1998 tentang GBHN adalah sebagai berikut: wawasan nusantara yang merupakan wawasan nasional yang bersumber pada Pancasila dan berdasarkan UUD 1945 adalah cara pandang dan sikap bangsa Indonesia mengenai diri dan lingkungannya dengan mengutamakan persatuan dan kesatuan bangsa serta kesatuan wilayah dalam menyelenggarakan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara untuk mencapai tujuan nasional. 2. Pengertian wawasan nusantara menurut prof. Dr. Wan usman (Ketua Program S-2 PKN – UI ) “wawasan nusantara adalah cara pandang bangsa indonesia mengenai diri dan tanah airnya sebagai negara kepulauan dengan semua aspek kehidupan yang beragam.”. Hal tersebut disampaikannya saat lokakarya wawsan nusantara dan ketahanan nasional di Lemhanas pada Januari 2000. Ia juga menjelaskan bahwa wawasan nusantara merupakan geopolitik indonesia.</p>
<p>3. Pengertian wawasan nusantara, menurut kelompok kerja wawasan nusantara, yang diusulkan menjadi ketetapan majelis permusyawaratan rakyat dan dibuat di Lemhanas tahun 1999 adalah sebagai berikut: “cara pandang dan sikap bangsa indonesia mengenai diri dan lingkungannya yang berseragam dan bernilai strategis dengan mengutamakan persatuan dan kesatuan bangsa serta kesatuan wilayah dalam menyelengarakan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara untuk mencapai tujuan nasional.” Secara umum wawasan nasional berarti cara pandang suatu bangsa tentang diri dan lingkungannya yang dijabarkan dari dasar falsafah dan sejarah bangsa itu sesuai dengan posisi dan kondisi geografi negaranya untuk mencapai tujuan atau cita – cita nasionalnya. Sedangkan arti dari wawasan nusantara adalah cara pandang bangsa Indonesia tentang diri dan lingkungannya berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 serta sesuai dengan geografi wilayah nusantara yang menjiwai kehidupan bangsa dalam mencapai tujuan atau cita – cita nasionalnya. Dengan demikian wawasan nusantara berperan untuk membimbing bangsa Indonesia dalam penyelengaraan kehidupannya serta sebagai rambu – rambu dalam perjuanagan mengisi kemerdekaan. Wawasan nusantara sebagai cara pandang juga mengajarkan bagaimana pentingnya membina persatuan dan kesatuan dalam segenap aspek kehidupan bangsa dan negara dalam mencapai tujuan dan cita – citanya 1.2. Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Wawasan Nusantara. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi wawasan nusantara diantaranya: 1. Wilayah (geografi). a. Asas Kepulauan (archipelagic principle) Kata ‘archipelago’ dan ‘archipelagic’ berasal dari kata Italia yakni ‘archipelagos’. Akar katanya adalah ‘archi’ yang berarti terpenting, terutama dan ‘pelagos’ berarti laut atau wilayah lautan. Jadi archipelago adalah lautan terpenting. Istilah archipelago antara lain terdapat dalam naskah resmi perjanjian antara Republik Venezza dengan Michael Palaleogus (1268) yang menyebutkan ‘arc(h) Pelego’yang maksudnya adalah ‘Aigaius Pelagos’ atau laut Aigia yang dianggap sebagai laut terpenting oleh negara – negara</p>
<p>yang bersangkutan kemudian pengertian ini berkembang tidak hanya laut Aigia tetapi juga termasuk pulau – pulau di dalamnya. Lahirnya asas archipelago mengandung pengertian bahwa pulau – pulau tersebut selalu dalam kesatuan utuh, sementara tempat unsur perairan atau lautan antara pulau – pulau berfungsi sebagai unsur penghubung dan bukan sebagai unsur pemisah. b. Kepulauan Indonesia. Bagian wilayah Indische Archipel yang dikuasai Belanda dinamakan Nederandsch Oost Indishe Archipelago. Itulah wilayah jajahan Belanda yang kemudian menjadi wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sebagai sebutan untuk kepulauan ini sudah banyak nama yang dipakai yaitu ‘Hindia Timur’, ‘Insulinde’ oleh Multatuli, ‘Nusantara’, ‘Indonesia’, ‘Hindia Belanda (Nederlandsch-indie)’ pada masa penjajahan Belanda. Bangsa Indonesia sangat mencintai nama ‘Indonesia’ walaupun bukan dari bahasanya sendiri tetapi ciptaan orang barat. Nama Indonesia mengandung arti yang tepat, yaitu kepulauan India. Dalam bahasa Yunani, ‘Indo’ berarti India dan ‘nesos’ berarti pulau. Sebutan ‘Indonesia’ merupakan ciptaan ilmuwan J.R Logan dalam Journal of The Indian Archipelago And East Asia (1850). Sir W.E. Maxwell (seorang ahli hukum) juga memakainya dalam kegemarannya mempelajari rumpun melayu. Kata Indoneis semakin terkenal berkat peran Adolf Bastian, seorang etnolog yang menegaskan arti kepulauan ini dalam bukunya Indonesien Order Die Inseln Des Malaysichen Archipels (1884 – 1889). Setelah cukup lam istilah itu hanya dipakai sebagai nama keilmuan, maka pada awal abad ke-20 perkumpulan mahasiswa Indonesia di Belanda menyebut dirinya sebagai ‘Perhimpunan Indonesia’. Berikutnya pada peristiwa Sumpah Pemuda tanggal 28-10-1928 kata Indonesia di pakai sebagai sebutan bagi bangsa, tanah air dan bahasa. Kemudian dipertegas lagi pada proklamasi kemerdekaan RI pada tanggal 17 Agustus 1945, Indonesia menjadi nam resmi negara dan bangsa Indonesia sampai sekarang. c. Konsep tentang Wilayah Lautan. Dalam perkembangan hukum laut internasional dikenal beberapa konsep mengenai kepemilikan dan penggunaan wilayah laut sebagai berikut :</p>
<p>- Res Nullius ? menyatakan bahwa laut itu tidak ada yang memilikinya. &#8211; Res Cimmunis ? menyatakan bahwa laut itu adalah milik masyarakat dunia karena tidak dapat dimiliki oleh masing – masing negara. Mare Liberum ? menyatakan bahwa wilayah laut adalah bebas untuk semua bangsa. &#8211; Mare Clausum (The Right and Dominion of The Sea) ? menyatakan bahwa hanya laut sepanjang pantai saja yang dapat dimiliki oleh suatu negara sejauh yang dapat dikuasai dari darat (kira – kira sejauh 3 mil). &#8211; Archipelagic State Principles (asas negara kepulauan) ? menjadi dasar dalam konvensi PBB tentang hukum laut. Saat ini konvensi PBB tentang hukum laut (United Nation Convention on the Law of the Sea – UNCLOS) mengakui adanya keinginan untuk membentuk tertib hukum dan samudera yang dapat mempermudah komunikasi internasional, mendayagunakan sumber kekayaan alam secara adil dan efisien, konservasi dan pengkajian sumber kekayaan hayatinya, serta perlindungan dan pelestarian lingkungan laut. Sesuai dengan hukum laut internasional, secara garis besar Bangsa Indonesia sebagai negara kepulauan memiliki Laut Teritorial, Perairan Pedalaman, Zone Ekonomi Ekskusif dan Landasan Kontinen. ? Negara Kepulauan adalah negara yang seluruhnya terdiri dari satu atau lebih kepulauan dan dapat mencakup pulau – pulau yang lain. Kepulauan adalah suatu gugusan pulau, termasuk bagian pulau, perairan diantaranya. ? Laut Teritorial adalah satu wilayah laut yang lebarnya tidak melebihi 12 mil laut diukur dari garis pangkal, sedangkan garis pangkal adalah garis air surut terendah sepanjang pantai. ? Perairan Pedalaman adalah wilayah sebelah dalam daratan atau sebelah dalam dari garis pangkal. ? Zone Ekonomi Eksklusif (ZEE), dimana tidak boleh melebihi 200 mil laut dari garis pagkal. Di dalam ZEE, negara yang bersangkutan memiliki hak kedaulatan untuk keperluan eksplorasi, ekploitasi, konservasi dan pengelolan sumber kekayaan alami hayati dari perairan. ? Landasan Kontinen suatu negara berpantai meliputi dasar laut dan tanah dibawahnya yang terletak di luar laut teritorialnya sepanjang merupakan kelanjutan alamiah wilayah daratannya.. Jaraknya 200 mil dari garis pangkal tau dapat lebih dari itu dengan tidak melebihi 350 mil, tidak boleh melebihi 100 mil dari garis batas kedalaman dasar laut sedalam 2500 m.</p>
<p>d. Karakteristik Wilayah Nusantara. Nusantara berarti Kepulauan Indonesia yang terletak di antara benua Asia dan benua Australia dan diantara samudra Pasifik dan samudra Indonesia, yang terdiri dari 17.508 pulau besar maupun kecil. Kepulauan Indonesia terletak pada batas astronomi sbb: Utara : ± 6°08’ LU Selatan : ± 11°15’ LS Barat : ± 94°45’ BT Timur : ± 141°05’ BT Jarak utara-selatan sekitar 1.888 Kemerdekaan, sedangkan jarak barat-timur sekitar 5.110 Kemerdekaan. Luas wilayah Indonesia seluruhnya adalah 5.193.250 km², yang terdiri dari daratan seluas 2.027.087 km² dan perairan seluas 3.166.163 km². 2. Geopolitik dan Geostrategi. a. Geopolitik. *Pengertian Geopolitik. Geografi mempelajari fenomena geografi dari aspek politik, sedangkan geopolitik mempelajari fenomena politik dari aspek geografi. Geopolitik memaparkan dasar pertimbangan dalam menentukan alternatif kebijakan nasional untuk mewujudkan tujuan tertentu. Prinsip-prinsip dalam geopolitik menjadi perkembangan suatu wawasan nusantara. *Pandangan ajaran Frederich Ratzel. Pokok-Pokok ajaran F.Ratzel adalah sebagai berikut 1) Dalam hal-hal tertentu pertumbuhan negara dapat dianalogikan dengan</p>
<p>pertumbuhan organisme yang memerlukan ruang lingkup, melalui proses lahir, tumbuh, berkembang, mempertahankan hidup,menyusut dan mati.</p>
<p>2) Negara identik dengan suatu ruang yang ditempati oleh kelompok politik dalam arti kekuatan. Makin luas potensi ruang tersebut, makin besar kemungkinan kelompok politik itu tumbuh (teori ruang, konsep ruang) 3) Suatu bangsa dalam mempertahankan kelangsungan hidupnya tidak terlepas dari hukum alam. Hanya bangsa yang unggul saja yang dapat bertahan hidup. 4) Semakin tinggi budaya suatu bangsa, semakin besar kebutuhan akan sumber akan sumber daya alam. Apabila wilayah/ruang hidup tidak mendukung, bangsa tersebut akan mencari pemenuhan kebutuhan akan kekayaan alam diluar wilayahnya (ekspansi). Hal ini melegitimasikan hukum ekspansi yaitu perkembangan atau dinamika budaya dalam bentuk gagasan kegiatan (ekonomi, perdagangan, perindustrian/produksi) harus diimbangi oleh pemekaran wilayah; batas-batas suatu negara pada hakikatnya bersifat sementara. ? Pandangan Ajaran Rudolf Kjellen Frederich Ratzel pada akhir abad ke – 19 mengenbangkan kajian geografi politik dengan dasar pandangan bahwa Negara adalah mirip organisme (makhluk hidup). Negara adalah ruang yang ditempati oleh kelompok mayarakat politik (bangsa). Jika bangsa dan negara ingin tetap eksis dan berkembang, maka harus diberlakukan hukum ekspansi (pemekaran wilayah). Di samping itu Rudolf Kjellen berpendapat bahwa negara adalah organisme yang harus memiliki intelektual. Negara merupakan sistem politik yang mencakup geopolitik, ekonomi politik, kratopolitik, dan sosiopolitik. Kjellen melanjutkan ajaran Ratzel tentang teori organisme. Kjellen menegaskan bahwa negara adalah suatu organisme yang dianggap sebagai “prinsip dasar”. Esensi ajaran Kjellen adalah sebagai berikut: 1. Negara merupakan satuan biologis, suatu organisme hidup, yang memiliki intelektual. Negara dimungkinkan untuk memperoleh ruang yang cukup luas agar kemampuan dan kekuatan rakyatnya dapat berkembang secara bebas. 2. Negara merupakan suatu sistem politik/ pemerintahan yang meliputi bidang- bidang: geopolitik, ekonomi politik, demokrasi politik , sosial politik,dan krato politik(politik memerintah).</p>
<p>3. Negara tidak harus bergantung pada sumber pembekalan luar. Ia harus mampu berswasembada serta memanfaatkan kemajuan kebudayaan dan teknologi untuk meningkatkan kekuatan nasionalnya: ke dalam, untuk mencapai persatuan dan kesatuan yang harmonis dan ke luar, untuk memperoleh batas-batas negara yang lebih baik. * Pandangan Karl Houshofer. Pandangan demikian ini semakin jelas pada pemikiran Karl Haushorfer yang pada masa itu mewarnai geopolitik Nazi Jerman di bawah pimpinan Adolf Hittler. Pemikiran Haushorfer di samping berisi paham ekspansionisme juga mengandung ajaran rasialisme, yang menyatakan yang menyatakan bahwa ras Jerman adalah ras paling unggul yang harus dapat menguasai dunia. Pandangan semacam ini juga di dunia berkembang di Jepang berupa ajaran Hako Ichiu yang dilandasi oleh semangat militerisme dan fasisme. Pandangan Karl Haushofer berkembang di Jerman ketika negara ini berada di bawah kekuasaan Adolf Hitler. Pokok-pokok teori Karl Haushofer ini pada dasarnya menganut teori Kjellen,yaitu 1. Kekusaan imperium daratan yang kompak akan dapat mengejar kekuasaan imperium maritim untuk menguasai pengawasan di laut. 2. Beberapa negara besar di dunia akan timbul dan akan menguasai Eropa Barat (Jerman dan Italia) serta Jepang di Asia Timur Raya. 3. Rumusan ajaran Karl Haushofer lainnya adalah sebagai berikut: Geopoltik adalah doktrin negara yang manitikberatkan soal-soal strategi perbatasan. Ruang hidup bangsa dan tekanan-tekanan kekuasaan dan sosial yang rasial mengharuskan pembagian baru kekayaan alam di dunia. Geopolitik adalah landasan bagi tindakan politik dalam perjuangan mendapatkan ruang hidup. * Pandangan Ajaran Sir Walter Raleigh dan Alfred Thyer Mahan. Kedua ahli ini mempunyai gagasan “wawasan bahari”, yaitu kekuatan di laut. ajarannya mengatakan bahwa barang siapa menguasai laut akan menguasai</p>
<p>“perdagangan”. Menguasai perdagangan berarti menguasai ” kekayaan dunia”sehingga pada akhirnya menguasai dunia. * Pandangan Ajaran Nicholas J. Spkyman. Ajaran ini menghasilkan teori yang dinamakan Teori Daerah Batas (rimland) yaitu teori wawasan kombinasi yang menggabungkan kekuatan darat, laut, dan udara. Dalam pelaksanaannya, teori ini disesuaikan dengan keperluan dan kondisi suatu negara * Pandangan Ajaran Sir Halfold Mackinder. Teori ahli geopolitik ini pada dasarnya menganut ”konsep kekuatan” dan mencetuskan wawasan benua, yaitu konsep kekutan di darat. Ajarannya menyatakan : barang siapa dapat menguasai “daerah jantung”, yaitu Eurasia (Eropa dan Asia), ia akan dapat menguasai “pulau dunia”, yaitu Eropa, Asia dan Afrika.</p>
<p>* Pandangan Ajaran W. Mitchel, A.Saversky, Giulio Douhet dan John Frederik Charles Fuller. Keempat ahli geopolotik ini berpendapat bahwa kekuatan di udara justru yang paling menentukan..Mereka melahirkan teori ”wawasan dirgantara” yaitu konsep kekuatan di udara. Kekuatan di udara hendaknya mempuyai daya yang dapat diandalkan untuk menangkis ancaman dan melumpuhkan kekuatan lawan dengan menghancurkannya dikandangnya sendiri agar lawan tidak mampu lagi menyerang. * Geopolitik Bangsa Indonesia. Pandangan geopolitik bangsa Indonesia yang didasarkan pada nilai-nilai Ketuhanan dan Kemanusiaan yang luhur dengan jelas dan tegas tertuang di dalam Pembukaan UUD 1945. Bangsa Indonesia adalah bangsa yang cinta damai, tetapi lebih cinta kemerdekaan. Bangsa Indonesia menolak segala bentuk penjajahan, karena penjajahan tidak sesuai denga peri kemanusiaan dan peri keadilan. Bangsa yang berfalsafah dan berideologi Pancasila menganut faham perang dan damai : ” Bangsa Indonesia cinta damai, akan tetapi lebih cinta kemerdekaan”. Wawasan nasional</p>
<p>bangsa Indonesia tidak mengembangkan ajaran mengenai kekuasaan dan adu domba, karena hal tersebut mengandung benih-benih persengketaan dan ekspansionisme. Ajaran wawasan nasional bangsa Indonesia menyatakan bahwa : Ideologi digunakan sebagai landasan idiil dalam menentukan politik nasional, dihadapkan pada kondisi dan konstelasi geografis Indonesia dengan segala aspek kehidupan nasionalnya. Tujuannya adalah agar bangsa Indonesia dapat menjamin kepentingan bangsa dan negaranya ditengah-tengah perkembangan dunia. Dalam hubungan internasional, bangsa Indonesia berpijak pada paham kebangsaan (nasionalisme) yang membentuk suatu wawasan kebangsaan dengan menolak pandangan chauvisme. Bangsa Indonesia selalu terbuka untuk menjalin kerjasama antar bangsa yang saling menolong dan saling menguntungkan. Semua ini dalam rangka ikut mewujudkan perdamaian dan ketertiban dunia yang abadi. Dalam menentukan, membina, dan mengembangkan wawasan nasionalnya, bangsa Indonesia menggali dan mengembangkan dari kondisi nyata yang terdapat di lingkungan Indonesia sendiri. Wawasan nasional Indonesia dibentuk dan dijiwai oleh pemahaman kekuasaan bangsa indonesia yang berlandaskan falsafah Pancasila dan pandangan geopolitik Indonesia yang berlandaskan pemikiran kewilayahan dan kehidupan bangsa Indonesia. Karena itu, pembahasan latar belakang filosofis sebagai pemikiran pembinaan dan pengembangan wawasan nasional Indonesia ditinjau dari : a. b. c. d. Latar Belakang Pemikiran beradasarkan Falsafah Pancasila Latar belakang pemikiran aspek kewilayahn Nusantara Latar belakang pemikiran aspek Sosial Budaya bangsa Indonesia Latar belakang aspek Kesejarahan bangsa Indonesia</p>
<p>b. Geostrategi. Geostrategi adalah politik dalam pelaksanaan, yaitu upaya bagaimana mencapai tujuan atau sasaran yang ditetapkan sesuai dengan keinginan keinginan politik. Sebagai contoh pertimbangan geostrategis untuk negara dan bangsa Indonesia adalah kenyataan posisi silang Indonesia dari berbagai aspek, disamping aspek aspek geografi juga dari aspek . Aspek demografi, ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya, dan Hankam. Posisi silang Indonesia tersebut dapat di rinci sebagai berikut :</p>
<p>1) Geografi : wilayah Indonesia terletak di antara dua benua, Asia dan Australia; serta si antara samudra Pasifik dan samudra Hindia. 2) Demografi : penduduk Indonesia terletak di antara penduduk jarang di selatan (Australia) dan penduduk padat di utara (RRC dan Jepang) 3) Ideologi : ideologi Indonesia (Pancasila) terletak di antara liberalisme di selatan ( Australia dan Selandia Baru) dan komunisme di utara ( RRC, Vietnam dan Korea Utara). 4) Politik : Demokrasi Pancasila terletak di antara demokrasi liberal di selatan dan demokrasi rakyat ( diktatur proletar) di utara. 5) Ekonomi : Ekonomi Indonesia terletak di antara ekonomi Kapitalis dan selatan Sosialis di utara. 6) Sosial : Masyarakat Indonesia terletak di antara masyarakat individualisme di selatan dan masyarakat sosialisme di utara. 7) Budaya : Budaya Indonesia terletak di antara budaya Barat di selatan dan budaya Timur di utara. 8) Hankam : Geopolitik dan geostrategis Hankam (Pertahanan dan Keamanan) Indonesia terletak diantara wawasan kekuatan maritim di selatan dan wawasan kekuatan kontinental di utara. Dengan demikian geostrategis adalah perumusan strategi nasional dengan memperhitungkan kondisi dan konstelasi geografi sebagai faktor utama. 3. Perkembangan Wilayah Indonesia dan Dasar Hukumnnya a. Sejak 17-8-1945 sampai dengan 13-12-1957 Pada masa tersebut wilayah Negara Republik Indonesia bertumpu pada wilayah daratan pulau-pulau yang saling terpisah oleh perairan atau selat di antara pulau-pulau itu. Wilayah laut teritorial masih sangat sedikit karena untuk setiap pulau hanya ditambah perairan sejauh 3 mil disekelilingnya.</p>
<p>b. Dari Deklarasi Juanda ( 13-12-1957) sampai dengan 17-2-1969 Pada tanggal 13 Desember 1957 dikeluarkan Deklarasi Juanda dengan tujuan sebagai berikut: 1) Perwujudan bentuk wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang utuh dan bulat. 2) Penentuan batas-batas wilayah Negara Indonesia disesuaikan dengan asas Negara kepulauan (archipelagic state principles). 3) Pengaturan lalu lintas damai pelayaran yang lebih menjamin keselamatan dan keamanan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Deklarasi Juanda kemudian dikukuhkan dengan Undang-Undang No. 4/Prp/1960 tanggal 18 Februari 1960. tentang Perairan Indonesia. Sejak itu terjadi perubahan bentuk sejauh 12 mil dari titik-titik pulau terluar yang saling berhubungan. c. Dari 17-2-1969 (Deklarasi Landas kontinen) Sampai Sekarang Deklarasi tentang landas kontinen Negara RI merupakan konsep politik yang berdasarkan wilayah. Disamping di pandang pula sebagai upaya untuk mewujudkan pasal 33 ayat 3 UUD 1945. Asas-asas pokok yang termuat di dalam Deklarasi tentang landas kontinen sebagai berikut: 1) Segala sumber kekayaan alam yang terdapat dalam landas kontinen Indonesia adalah milik eksklusif Negara Republik Indonesia. 2) Pemerintah Indonesia bersedia menyelenggarakan soal garis batas landasan kontinen dengan negara-negara tetangga melalui perundingan. 3) Jika tidak ada garis batas, maka landas kontinen adalah suatu garis yang di tarik di tengah-tengah antara pulau terluar Indonesia dengan wilayah terluar negara tetangga.</p>
<p>4) Klaim tersebut tidak mempengaruhi sifat serta status dari perairan diatas landasan kontinen Indonesia maupun udara diatasnya. Asas-asas pokok tersebut dituangkan dalam Undang-Undang Nomor 1 tahun 1973 tentang Landasan Kontinen Indonesia. Di samping itu UU No. 1/1973 juga memberi dasar bagi pengaturan eksplorasi serta penyelidikan ilmiah atas kekayaan alam di landas kontinen dan masalah-masalah yang ditimbulkan. d. Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Pengumuman Pemerintah tentang Zona Ekonomi Eksklusif terjadi pada 21 Maret 1980. Batas ZEE adalah selebar 200 mil yang dihitung dari garis dasar laut wilayah Indonesia. Alasan-alasan yang mendorong sebagai – berikut: 1) Persediaan ikan yang semakin terbatas. 2) Kebutuhan untuk pembangunan nasional Indonesia 3) ZEE mempunyai kekuatan hukum internasional. 1.3. UNSUR-UNSUR DASAR WAWASAN NUSANTARA. 1. Wadah .a. Wujud Wilayah Batas ruang lingkup wilayah nusantara ditentukan oleh lautan yang di dalamnya terdapat gugusan ribuan pulau yang saling dihubungkan oleh perairan. Oleh karena itu Nusantara dibatasi oleh lautan dan daratan serta dihubungkan oleh perairan didalamnya. Setelah bernegara dalam negara kesatuan Republik Indonesia, bangsa indonesia memiliki organisasi kenegaraan yang merupakan wadah berbagi kegiatn kenegaraan dalam wujud suprastruktur politik. Sementara itu, wadah dalam kehidupan bermasyarakat adalah lembaga dalam wujud infrastruktur politik. Letak geografis negara berada di posisi dunia antara dua samudra, yaitu Samudra Pasifik dan Samudra Hindia, dan antara dua benua, yaitu banua Asia dan benua Australia. Perwujudan wilayah Nusantara ini menyatu dalam kesatuan poliyik, ekonomi, sosial-budaya, dan pertahanan keamanan.</p>
<p>b. Tata Inti Organisasi Bagi Indonesia, tata inti organisasi negara didasarkan pada UUD 1945 yang menyangkut bentuk dan kedaulatan negara kekuasaaan pemerintah, sistem pemerintahan, dan sistem perwakilan. Negara Indonesia adalah negara kesatuan yang berbentuk republik. Kedaulatan di tangan rakyat yang dilaksanakan sepenuhnya oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR). Sistem pemerintahan, menganut sistem presidensial. Presiden memegang kekuasaan bersadarkan UUD 1945. Indonesia adalah Negara hukum( Rechtsstaat ) bukan Negara kekuasaan ( Machtsstaat ). c. Tata Kelengkapan Organisasi Wujud tata kelengkapan organisasi adalah kesadaran politik dan kesadaran bernegara yang harus dimiliki oleh seluruh rakyat yang mencakup partai politik, golongan dan organisasi masyarakat, kalangan pers seluruh aparatur negara. Yang dapat diwujudkan demokrasi yang secara konstitusional berdasarkan UUD 1945 dan secara ideal berdasarkan dasar filsafat pancasila. 2. Isi Wawasan Nusantara Isi adalah aspirasi bangsa yang berkembang di masyarakat dan cita-cita serta tujuan nasional yang terdapat pada pembukaan UUD 1945. Untuk mencapai aspirasi yang berkembang di masyarakat maupun cita-cita dan tujuan nasional seperti tersebut di atas, bangsa Indonesia harus mampu menciptakan persatuan dan kesatuan dalam kebhinekaan dalam kehidupan nasional. Isi menyangkut dua hal yang essensial, yaitu: a. Realisasi aspirasi bangsa sebagai kesepakatan bersama serta pencapaian cita-cita dan tujuan nasional. b. Persatuan dan kesatuan dalam kebhinekaan yang meliputi semua aspek kehidupan nasional. Isi wawasan nusantara tercemin dalam perspektif kehidupan manusia Indonesia meliputi :</p>
<p>a. Cita-cita bangsa Indonesia tertuang di dalam Pembukaan UUD 1945 yang menyebutkan : 1) Negara Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur. 2) Rakyat Indonesia yang berkehidupan kebangsaan yang bebas. 3) Pemerintahan Negara Indonesia melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial. b. Asas keterpaduan semua aspek kehidupan nasional berciri manunggal, utuh menyeluruh meliputi : 1. Satu kesatuan wilayah nusantara yang mencakup daratan perairan dan dirgantara secara terpadu. 2. Satu kesatuan politik, dalam arti satu UUD dan politik pelaksanaannya serta satu ideologi dan identitas nasional. 3. Satu kesatuan sosial-budaya, dalam arti satu perwujudan masyarakat Indonesia atas dasar “Bhinneka Tunggal Ika”, satu tertib sosial dan satu tertib hukum. 4. Satu kesatuan ekonomi dengan berdasarkan atas asas usaha bersama dan asas kekeluargaan dalam satu sistem ekonomi kerakyatan. 5. Satu kesatuan pertahanan dan keamanan dalam satu system terpadu, yaitu sistem pertahanan keamanan rakyat semesta (Sishankamrata). 6. Satu kesatuan kebijakan nasional dalam arti pemerataan pembangunan dan hasilhasilnya yang mencakup aspek kehidupan nasional.</p>
<p>3. Tata Laku Wawasan Nusantara Mencakup Dua Segi, Batiniah dan Lahiriah Tata laku merupakan dasar interaksi antara wadah dengan isi, yang terdiri dari tata laku tata laku batiniah dan lahiriah. Tata laku batiniah mencerminkan jiwa, semangat, dan mentalitas yang baik dari bangsa indonesia, sedang tata laku lahiriah tercermin dalam tindakan , perbuatan, dan perilaku dari bangsa idonesia. Tata laku lahiriah merupakan kekuatan yang utuh, dalam arti kemanunggalan. Meliputi perencanaan, pelaksanaan, pengawasan dan pengendalian. Kedua hal tersebut akan mencerminkan identitas jati diri atau kepribadian bangsa indonesia berdasarkan kekeluargaan dan kebersamaan yang memiliki rasa bangga dan cinta kepada bangga dan tanah air sehingga menimbulkan nasionalisme yang tinggi dalm segala aspek kehidupan nasional. 1.4. HAKIKAT WAWASAN NUSANTARA, Hakikat wawasan nusantara adalah keutuhan nusantara, dalam pengertian cara pandang yang selalu utuh menyeluruh dalam lingkup nusantara demi kepentingan nasional. Hal tersebut berarti bahwa setiap warga bangsa dan aparatur negar harus berpikir, bersikap, dan bertindak secara utuh menyeluruh demi kepentingan bangsa dan negara indonesia. Demikian juga produk yang dihasilkan oleh lembaga negara harus dalam lingkup dan demi kepentingan bangsa dan negara Indonesia, tanpa menghilangkan kepentingan lainnya, seperti kepentingan daerah, golongan dan orang per orang. 1.5. ARAH PANDANG WAWASAN NUSANTARA. 1. Arah Pandang Ke Dalam Arah pandang ke dalam bertujuan menjamin perwujudan persatuan kesatuan segenap aspek kehidupan nasional, baik aspek alamiah maupun sosial. Arah pandang ke dalam mengandung arti bahwa bangasa indonesia harus peka dan berusaha untuk mencegah dan mengatasi sedini mungkin faktor-faktor penyebab timbulnya disintegrasi bangsa dan harus mengupayakan tetap terbina dan terpeliharanya persatua dan kesatuan dalam kebhinekaan.</p>
<p>2. Arah Pandang Ke Luar Arah pandang ke luar ditujukan demi terjaminnya kepentingan nasional dalam duna serba berubah maupun kehidupan dalam negeri serta dalam melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial, serta kerja sama dan sikap saling menghormati. Arah pandang ke luar mengandung arti bahwa kehidupan internasionalnya, bangsa Idonesia harus berusaha mengamankan kepentingan nasionalnya dalam semua aspek kehidupan demi tercapainya tujuan nasional sesuai tertera pada Pembukaan UUD1945. 1.6. KEDUDUKAN, FUNGSI DAN TUJUAN WAWASAN NUSANTARA. 1. Kedudukan a. Wawasan nusantara sebagai wawasan nasional bangsa Indonesia merupakan ajaran yang diyakini kebenarannya oleh seluruh rakyat agar tidak terjadi penyesatan dan penyimpangan dalam upaya mencapai serta mewujudkan cita- cita dan tujuan nasional. b. Wawasan nusantara dalam paradigma nasional dapat dilihat dari stratifikasinya sebagai berikut: 1. Pancasila sebagai falsafah, ideologi bangsa dan dasar negara berkedudukan sebagai landasan idiil. 2. Undang0undang dasar 1945 sebagai landasan konstitusi negara, berkedudukan sebagai landasan konstitusional. 3. Wawasan nusantara sebagai visi nasional, berkedudukan sebagai landasan visional. 4. Ketahanan nasional sebagai konsepsi nasional atau sebagai kebijaksanaan nasional, berkedudukan sebagai landasan operasional. 2. Fungsi</p>
<p>Wawsan nusantara berfungsi sebagai pedoman, motivasi, dorongan, serta ramburambu dalam menentukan segala jenis kebijaksanaan, keputusan, tindakan dan perbuatan bagi penyelenggara negara di tingkat pusat dan daerah maupun bagi seluruh rakyat Indonesia dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. 3. Tujuan Wawasan nusantara bertujuan mewujudkan nasionalisme yang tinggi di segala aspek kehidupan rakyat Indonesia yang lebih mementingkan kepentingan nasional dari pada kepentingan individu, kelompok, golongan, suku bangsa, atau daerah. Hal tersebut bukan berarti menghilangkan kepentingan-kepentingan individu, kelompok, suku bangsa,atau daerah. 1.7. IMPLEMENTASI WAWASAN NUSANTARA. Implementasi atau penerapan wawasan nusantara harus tercermin pada pola pikir, pola sikap, dan pola tindak yangsenantiasa mendahulukan kepentingan bangsa dan negara daripada kepentingan pribadi atau kelompok. Dengan kata lain, wawasan nusantara menjadi pola yang mendasari cara berpikir, bersikap, dan bertindak dalam rangka menghadapi berbagai masalah menyangkut kehidupan bermayarakat, berbangsa dan bernegara. Implementasi wawasan nusantara senantiasa berorientasi pada kepentingan rakyat dan wilayah tanah air secara utuh dan menyeluruh sebagai berikut : 1. Wawasan Nusantara sebagai Pancaran Falsafah Pancasila Falsafah Pancasila diyakini sebagai pandangan hidup bangsa Indonesia yang sesuai dengan aspirasinya. Keyakinan ini dibuktikan dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia sejak awal proses pembentukan Negara Kesatuan Republik Indonesia sampai sekarang. Dengan demikian wawasan nusantara menjadi pedoman bagi upaya mewujudkan kesatuan aspek kehidupan nasional untuk menjamin kesatuan, persatuan dan keutuhan bangsa, serta upaya untuk mewujudkan ketertiban dan perdamaian dunia. 2. Wawasan Nusantara dalam Pembangunan Nasional</p>
<p>a. Perwujudan Kepulauan Nusantara sebagai Satu Kesatuan Politik Bangsa Indonesia bersama bangsa-bangsa lain ikut menciptakan ketertiban dunia dan perdamaian abadi melalui politik luar negeri yang bebas aktif. Implementasi wawasan nusantara dalam kehidupan politik akan menciptakan iklim penyelenggaraan negara yang sehat dan dinamis. Hal tersebut tampak dalam wujud pemerintahan yang kuat aspiratif dan terpercaya yang dibangun sebagai penjelmaan kedaulatan rakyat. b. Perwujudan Kepulauan Nusantara sebagai Satu Kesatuan Ekonomi Implementasi wawasan nusantara dalam kehidupan ekonomi akan menciptakan tatanan ekonomi yang benar-benar menjamin pemenuhan dan peningkatan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat secara adil dan merata. Di samping itu, implementasi wawasan nusantara mencerminkan tanggung jawab pengelolaa sumber daya alam yang memperhatikan kebutuhan masyarakat antar daerah secara timbal balik serta kelestarian sumber daya alam itu sendiri. 1) Kekayaan di wilayah nusantara, baik potensial maupun efektif, adalah modal dan milik bersama bangsa untuk memenuhi kebutuhan di seluruh wilayah Indonesia secara merata. 2) Tingkat perkembangan ekonomi harus seimbang dan serasi di seluruh daerah tanpa mengabaikan ciri khas yang memiliki daerah masing-masing. 3) Kehidupan perekonomian di seluruh wilayah nusantara diselenggarakan sebagai usaha bersama dengan asas kekeluargaan dalam sistem ekonomi kerakyatan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. c. Perwujudan Kepulauan Nusantara sebagai Satu Kesatuan Sosial Budaya Implementasi wawasan nusantara dalam kehidupan sosial budaya akan menciptakan sikap batiniah dan lahiriah yang mengakui segala bentuk perbedaan sebagai kenyataan hidup sekaligus karunia Tuhan. Implementasi ini juga akan menciptakan kehidupan masyarakat dan bangsa yang rukun dan bersatu tanpa membedakan suku, asal usul daerah, agama, atau kepercayaan,serta golongan</p>
<p>berdasarkan status sosialnya. Budaya Indonesia pada hakikatnya adalah satu kesatuan dengan corak ragam budaya yang menggambarkan kekayaan budaya bangsa. Budaya Indonesia tidak menolak nilai-nilai budaya asing asalkan tidak bertentangan dengan nilai budaya bangsa sendiri dan hasilnya dapat dinikmati. d. Perwujudan Kepulauan Nusantara Sebagai Satu Kesatuan Pertahanan dan keamanan Implementasi wawasan nusantara dalam kehidupan pertahanan dan keamanan akan menumbuhkan kesadaran cinta tanah air dan bangsa, yang lebih lanjut akan membentuk sikap bela negara pada tiap warga negara Indonesia. Kesadaran dan sikap cinta tanah air dan bangsa serta bela negara ini menjadi modal utama yang akan mengerakkan partisipasi setiap warga negara indonesia dalam menghadapi setiap bentuk ancaman antara lain : 1) Bahwa ancaman terhadap satu pulau atau satu daerah pada hakikatnya adalah ancaman terhadap seluruh bangsa dan negara. 2) Tiap-tiap warga negara mempunyai hak dan kewajiban yang sama untuk ikut serta dalam pertahanan dan keamanan Negara dalam rangka pembelaan negara dan bangsa. 3. Penerapan Wawasan Nusantara a. Salah satu manfaat paling nyata dari penerapan wawasan nusantara. Khususnya di bidang wilayah. Adalah diterimanya konsepsi nusantara di forum internasional. Sehingga terjaminlah integritas wilayah territorial Indonesia. Laut nusantara yang semula dianggap “laut bebas” menjadi bagian integral dari wilayah Indonesia. b. Pertambahan luas wilayah sebagai ruang lingkup tersebut menghasilkan sumber daya alam yang mencakup besar untuk kesejahteraan bangsa Indonesia. c. Pertambahan luas wilayah tersebut dapat diterima oleh dunia internasional terutama negara tetangga yang dinyatakan dengan persetujuan yang dicapai.</p>
<p>d. Penerapan wawasan nusantara dalam pembangunan negara di berbagai bidang tampak pada berbagai proyek pembangunan sarana dan prasarana ekonomi, komunikasi dan transportasi. e. Penerapan di bidang sosial dan budaya terlihat pada kebijakan untuk menjadikan bangsa Indonesia yang Bhinneka Tunggal Ika tetap merasa sebangsa, setanah air, senasib sepenanggungan dengan asas pancasila. f. Penerapan wawasan nusantara di bidang pertahanan keamanan terlihat pada kesiapsiagaan dan kewaspadaan seluruh rakyat melalui sistem pertahanan dan keamanan rakyat semesta untuk menghadapi berbagai ancaman bangsa dan Negara. 4. Hubungan Wawasan Nusantara dan Ketahanan Nasional Dalam penyelenggaraan kehidupan nasional agar tetap mengarah pada pencapaian tujuan nasional diperlukan suatu landasan dan pedoman yang kokoh berupa konsepsi wawsan nasional untuk mewujudkan aspirasi bangsa serta kepentingan dan tujuan nasional. Wawasan nasional bangsa Indonesia adalah wawasan nusantara yang merupakan pedoman bagi proses pembangunan nasional menuju tujuan nasional. sedangkan ketahanan nasional merupakan kondisi yang harus diwujudkan agar proses pencapaian tujuan nasional tersebut dapat berjalan dengan sukses. Secara ringkas dapat dikatakan bahwa wawasan nusantara dan ketahanan nasional merupakan dua konsepsi dasar yang saling mendukung sebagai pedoman bagi penyelenggaraan kehidupan berbangsa dan bernegara agar tetap jaya dan berkembang seterusnya.</p>
<p>1.8. SOSIALISASI/PEMASYARAKATAN WAWASAN NUSANTARA. Untuk implementasi mempercepat seperti tercapainya telah tujuan wawasan diatas, Nusantara, perlu juga disamping dilakukan</p>
<p>yang</p>
<p>disebutkan</p>
<p>pemasyarakatan materi Wawasan Nusantara kepada seluruh masyarakat Indonesia. Pemasyarakatan Wawasan Nusantara tersebut dapat dilakukan dengan cara berikut</p>
<p>1. Menurut sifat/ atau cara penyampaian, yang dapat dilaksanakan sebagai berikut a. Langsung yang terdiri dari ceramah, diskusi, dialog, tatap muka b. Tidak langsung, yang terdiri dari media elektronik dan media cetak 2. Menurut metode penyampaian yang berupa : a. Keteladanan. Melalui metode penularan keteladanan dalam sikap perilaku kehidupan sehari-hari kepada lingkungannya serutama dengan memberikan contoh-contoh berpikir, bersikapdan bertindak mementingkan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi atau golongan sehingga timbul semangat kebangsaan yang selalu cinta tanah air. b. Edukasi, yakni melalui metode pendekatan formal dan informal. Pendidikan dormal ini dimulai dari tingkat taman kanak-kanak sampai perguruan tinggi, pendidikan karier di semua strata dan bidang profesi, penataran, kursus dan sebagainya. Sedangkan pendidikan non-formal dapat dilaksanakan di lingkungan keluarga, pemukiman, pekerjaan, dan organisasi kemasyarakatan. c. Komunikasi. Tujuan yang ingin dicapai dari sosialisasi wawasan nusantara melalui metode komunikasi adalah tercapainya hubungan komunikatif secara baik yang akan mampu menciptakn iklim saling menghargai, menghormati, mawas diri, dan tenggang rasa sehingga terciptanya kesatuan bahasa dan tujuan tentang wawasan nusantara. d. Integrasi. Tujuan yang ingin dicapai dari pemasyarakatan/sosialisasi wawasan nusantara melalui metode ini adalah terjalinnya pemahaman tentang wawasan nusantara akan membatasi sumber konflik di dalam tubuh bangsa Indonesia baik pada saat ini maupun di masa mendatang dan akan memantapkan kesadaran untuk mengutamakan kepentingan nasional dan cita-cita tujuan nasional. Dalam melaksanakan pemasyarakatan, lingkup materi wawasan nusantara yang disampaikan hendaknya disesuaikan dengan tingkat, jenis, serta lingkungan pendidikan agar materi yang disampaikan tersebut dapat mengerti dan dipahami.</p>
<p>1.9. TANTANGAN DARI IMPLEMENTASI WAWASAN NUSANTARA. Dewasa ini kita menyaksikan bahwa kehidupan individu dalam bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara sedang mengalami perubahan. Dan kita juga menyadari bahwa faktor utama yang mendorong terjadinya proses perubahan tersebut adalah nilai-nilai kehidupan baru yang di bawa oleh negara maju dengan kekuatan penetrasi globalnya. Apabila kita menengok sejarah kehidupan manusia dan alam semesta, perubahan dalam kehidupan itu adalah suatu hal yang wajar, alamiah. Dalam dunia ini, yang abadi dan kekal itu adalah perubahan. Berkaitan dengan wawasan nusantara yang syarat dengan nilai-nilai budaya bangsa Indonesia dan di bentuk dalam proses panjang sejarah perjuangan bangsa, apakah wawasan bangsa Indonesia tentang persatuan dan kesatuan itu akan terhanyut tanpa bekas atau akan tetap kokoh dan mampu bertahan dalam terpaan nilai global yang menantang Wawasan Persatuan bangsa. Tantangan itu antara lain adalah pemberdayaan rakyat yang optimal, dunia yang tanpa batas, era baru kapitalisme, dan kesadaran warga negara.</p>
<p>BAB III PENUTUP</p>
<p>KESIMPULAN</p>
<p>Wilayah Indonesia yang sebagian besar adalah wilayah perairan mempunyai banyak celah kelemahan yang dapat dimanfaatkan oleh negara lain yang pada akhirnya dapat meruntuhkan bahkan dapat menyebabkan disintegrasi bangsa Indonesia. Indonesia yang memiliki kurang lebih 13.670 pulau memerlukan pengawasan yang cukup ketat. Dimana pengawasan tersebut tidak hanya dilakukan oleh pihak TNI/Polri saja tetapi semua lapisan masyarakat Indonesia. Bila hanya mengandalkan TNI/Polri saja yang persenjataannya kurang lengkap mungkin bangsa Indonesia sudah tercabik – cabik oleh bangsa lain. Dengan adannya wawasan nusantara kita dapat mempererat rasa persatuan di antara penduduk Indonesia yang saling berbhineka tunggal ika. Wawasan nasional bangsa Indonesia adalah wawasan nusantara yang merupakan pedoman bagi proses pembangunan nasional menuju tujuan nasional. sedangkan ketahanan nasional merupakan kondisi yang harus diwujudkan agar proses pencapaian tujuan nasional tersebut dapat berjalan dengan sukses. Oleh karena itu diperlukan suatu konsepsi ketahanan nasional yang sesuai dengan karakteristik bangsa Indonesia. SARAN Dengan adanya wawasan nusantara, kita harus dapat memiliki sikap dan perilaku yang sesuai kejuangan, cinta tanah air serta rela berkorban bagi nusa dan bangsa. Dalam kaitannya dengan pemuda penerus bangsa hendaknya ditanamkan sikap wawasan nusantara sejak dini sehingga kecintaan mereka terhadap bangsa dan negara lebih meyakini dan lebih dalam. Untuk itulah perlu kiranya pendidikan yang membahas/mempelajari tentang wawasan nusantara dimasukan ke dalam suiatu kurikulum yang sekarang diterapkan dalam dunia pendidikan di Indonesia (misalnya : pelajaran Kewarganegaraan, Pancasila, PPKn dan lain &#8211; lain). Untuk masyarakat Indonsia (baik bagi si pembuat makalah, pembaca makalah serta yang lain) agar dapat menjaga makna dan hakikat dari wawasan nusantara yang tercermin dari perilaku – perilaku sehari hari misalnya ikut menjaga keamanan dan ketertiban lingkungan.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/serengan2.wordpress.com/82/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/serengan2.wordpress.com/82/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/serengan2.wordpress.com/82/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/serengan2.wordpress.com/82/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/serengan2.wordpress.com/82/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/serengan2.wordpress.com/82/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/serengan2.wordpress.com/82/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/serengan2.wordpress.com/82/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/serengan2.wordpress.com/82/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/serengan2.wordpress.com/82/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/serengan2.wordpress.com/82/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/serengan2.wordpress.com/82/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/serengan2.wordpress.com/82/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/serengan2.wordpress.com/82/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=serengan2.wordpress.com&amp;blog=5347431&amp;post=82&amp;subd=serengan2&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://serengan2.wordpress.com/2010/04/22/wawsan-nusantara/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/22af4f48c20f4a76b9c8db9e63019785?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Danang</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title></title>
		<link>http://serengan2.wordpress.com/2010/01/20/68/</link>
		<comments>http://serengan2.wordpress.com/2010/01/20/68/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 20 Jan 2010 16:59:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Danang</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://serengan2.wordpress.com/2010/01/20/68/</guid>
		<description><![CDATA[Dúrjånå Pak Sarmín katón gêtêm-gêtêm, ngrungókaké pawartå, yèn íng wêktu iki akèh wóng kang kélangan, akèh malíng kang pådhå bêropérasi. Sak liyané omah-omah biasa, papan kang kanggo jujugan malíng yå iku kantór-kantór pêmêrintahan. Pak Sarmín katón anyêl amargå sêtêngah tahún kêpungkúr kantóré yå pêrnah disatróni malíng. Sanadyan bapak kêpala íng kantóré ora paríng dukå marang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=serengan2.wordpress.com&amp;blog=5347431&amp;post=68&amp;subd=serengan2&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Dúrjånå</strong></p>
<p>Pak Sarmín katón gêtêm-gêtêm, ngrungókaké pawartå, yèn íng wêktu iki akèh wóng kang kélangan, akèh malíng kang pådhå bêropérasi. Sak liyané omah-omah biasa, papan kang kanggo jujugan malíng yå iku kantór-kantór pêmêrintahan.</p>
<p>Pak Sarmín katón anyêl amargå sêtêngah tahún kêpungkúr kantóré yå pêrnah disatróni malíng. Sanadyan bapak kêpala íng kantóré ora paríng dukå marang dhèwèké, nangíng Pak Sarmín rumångså isín. Åpå manèh dhèwèké kudu ngadhêpi pitakóné bapak-bapak såkå kêpulisian, síng sêmuné kåyå nudhúh marang dhèwèké.</p>
<p>Pak Sarmín anggóné jågå malêm íng salah sawijiné kantór pêmêrintahan wís sawêtårå suwé, kurang luwíh wís róng pulúh tahun. Mbók mênåwå umuré wís kêtuwan mênåwå ngajókaké dadi pêgawai nêgêri, mulå dhèwèké wís mupús. Jågå malêm kanggoné dhèwèké ora nggolèki lêmbaran rupiah, nangíng ngiras pantês kanggo tirakat, mêlèk wêngi, kanggo sêsiríh. Ora ånå liyå síng diprihatinaké, didongakké sabên dinå yaiku anak lanang siji-sijiné, Parjo. Anak lanang síng didåmå-dåmå, digadhang-gadhang lan digayúh mugå-mugå bisa mikúl dhuwúr mêndhêm jêro marang dhèwèké.</p>
<p><span id="more-68"></span>Parjo salah sawijiníng pêmudha kang gagah, dêdêg piadêgé éntúk, lan praupané ya ora pati nguciwani. Mulå ora maido yèn duwé pêpinginan dadi pulisi. Nanging Pak Sarmín sêmpat was-was, sawisé lulús SMA, Parjo wís nyobå ndhaftar dadi pulisi kapíng pindho, nangíng gagal têrús, lan ora mangêrtèni åpå síng nyêbabaké gagalé. Yèn ditakoni jaré kabèh ujiané yå biså nggarap, ujian fisik yå biså, mbók mênåwå nasibé waé sing durúng apík.</p>
<p>Róng ndinå iki Pak Sarmín ora doyan mangan, amargå mikír pênjaluké anaké lanang. Anak lanang siji-sijiné ora tau njalúk, njalúk pisan waé dhèwèké ora biså nuruti. Parjo pancèn arang nêmbúng njalúk marang wóng tuwané, wís kulinå såkå cilík, kêpingín klambi waé ora bakal nêmbúng marang wóng tuwané. Nèk ditukókné yå diênggo, nèk ora yå múng mênêng waé. Róng ndinå kêpungkúr Parjo sêmpat ngómóng marang bapaké,</p>
<p>&#8220;Pak, pripún nèk kulå pênjênêngan pundhútké mótór, krédit mawón, mêngké kula tak ngojèk, hasilé rak sagêd kanggé ngangsúr&#8230;, timbangané kulå nganggúr wóntên ndalêm, sak mênika padós pêdamêlan nggíh angèl?!&#8221;.</p>
<p>&#8220;Jo&#8230;, Jo&#8230; åpå kowé ki ra ngêrti, dinggo nyukupi butúh sabên dinané waé kangèlan, la kók dinggo tuku móntór!, kowé kuwi nglindúr pó piyé?&#8221;</p>
<p>&#8220;Nggíh sampún&#8230;.&#8221;.</p>
<p>***</p>
<p>Têlúng sasi wís mlaku, rikålå wêktu ngasar Karmo, adiné lanang Pak Sarmín nyêdhaki lungguhé Pak Sarmín têrús ngómóng kanthi sora lan sêmangat makantar-kantar, &#8220;Mas&#8230; Mas Sarmín, ati-ati lho Mas&#8230; sakiki wis wiwít akèh pêncurian, malíng-malíng wís mêrajaléla manèh, kåyå têlúng sasi kêpungkúr, iki malah tambah nêmên.&#8221;</p>
<p>&#8220;Mo&#8230; Mo! Ómóng kók pathing pêcóthót, mêrajaléla ki åpå cobå?&#8221;</p>
<p>&#8220;Hé&#8230; hé&#8230;, êmbúh Mas, wóng aku gúr mèlu-mèlu koran kaé kók! Níng tênan lho Mas, soalé síng diarah sakiki kantór-kantór manèh, biasané njikúk kónmutér, síng di jikúk åpå ya&#8230; anu, nèk ora salah jênêngé cé&#8230; pé&#8230; u.&#8221;</p>
<p>&#8220;Mbók nèk ra mudhêng ki takón sík, dadi nèk ómóng ora ngisin-isini, kónmutêr ki bèn mumêt på?! Síng bênêr ki kómputêr&#8230;.., cah nèk ra tau mangan sêkolahan yå kåyå kowé kuwi&#8230;.&#8221;</p>
<p>Ngrungókké sindhirané kakangé, Karmo gúr njêgègès, malah têrús nêrangaké nganggo bahasa Indonésia.</p>
<p>&#8220;Coba bayangkan dalam satu bulan saja di sêkitar kita ini sudah têrjadi lima kali pêncurian dan anèhnya sêpêrti di jadwal. Hari ini sêbêlah barat, dua hari kêmudian timúr, têrús sêlatan, utara&#8230; wah uédan tênan. Apa polisi tidak bêrtindak yå Mas?! Wah&#8230;.. sungguh têrlalu!&#8221; Karmo nirókaké gayané salah sawijiné pêran ing sinêtrón Êntóng.</p>
<p>&#8220;Iyå, aku ngêrti, têrús aku kón ngåpå?&#8221; sêmauré Pak Sarmín.</p>
<p>&#8220;Lho&#8230;. Sampéyan niku pripún tho Mas, lha wóng kêmarin kan kantóré Mas Sarmín baru dapat kiriman lima sèt kómputêr lêngkap, pasti mêréka sudah tahu. Saya yakin lima ratús pêrsèn kalau sêbêntar lagi pasti mênjadi TO-nya para pêncuri itu!&#8221;.</p>
<p>&#8220;Kowé kuwi ómóngan nyêlót ra nggênah, lé mu sinau bahasa Indonésia ki nèngêndi to Mo, wóng yakin kók limangatús pêrsèn, éh&#8230;. Mo, TO kuwi åpå tó?&#8221;</p>
<p>&#8220;Wah Mas Sarmín ki kurang gaúl tênan, TO itu singkatan dari Targèt Opêrasi!! you know?!&#8230; yå opêrasinya pårå pêncuri itu,&#8221; Sarmo njawab karo nyêngèngès.</p>
<p>&#8220;O&#8230; alah Mo&#8230; Mo, mbók nyêbút. Lha wóng kowé kuwi gúr lulusan kathók cêndhak waé kók kêmaki!&#8221;</p>
<p>Durúng suwé anggóné pådå rêmbugan, Parjo katón nyêdhaki bapaké karo nggawa bungkusan.</p>
<p>&#8220;Pún dangu, Lík? Niki kula tumbaské gorèngan, mumpúng taksíh angêt. Niki Pak kula tumbaské sês, rêmêné bapak!&#8221; Parjo ngulúngaké rókók marang bapaké. Karmo njawab pitakóné ponakané térús nyaút témpé gorèng lan lómbók rawít.</p>
<p>&#8220;Wah kowé kalêbu wóng síng untúng, Mas! Anak múng siji, gèk ngêrti marang wóngtuwå. Lha aku iki anak papat, jan blas ora ånå síng ngêrti siji-sijia. Åpå manèh nukókké rókók, isané ya nyêlêri rókóké bapaké! Parjo ki sakiki kêrja nènggêndi ta, Mas?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ora kêrjå åpå-åpå, nèk tak takóni jaré yå múng bísnís kêmbang karo kancané, kuwi lho&#8230; síng jênêngé Jêmani karo Gêlómbang Cinta åpå piyé? Aku ra pati mudhêng.&#8221;</p>
<p>***</p>
<p>Wiwít soré råså atiné Pak Sarmín ora kêpénak, tansah was-was ora ånå jalarané. Biså ugå yå amarga pêngarúh ngimpiné dhèk wingi bêngi. Ngimpi síng kanggoné wóng-wóng jaman ndhisik ånå sasmita síng ora bêcík. Miturút piwulang Jåwå, ngimpiné ånå pérangan wêngi kang diarani puspåtajêm, miturút pårå pinisêpúh biyasané bakal numusi. Pak Sarmín ngimpi yèn untu nduwúr pathal siji.</p>
<p>&#8220;Pak&#8230;, mbók rasah digagas, lha wóng ngimpi kuwi kêmbangé wóng turu&#8230;,&#8221; ngono sêmauré bojoné rikålå dicêritani ngimpiné. Udåkårå jam wolu bêngi, Pak Sarmín mangkat mênyang kantór nindakaké pakaryané jågå malêm.</p>
<p>Kirå-kirå jam sêtêngah siji bêngi Pak Sarmín wêrúh klébaté wóng loro kang nuju marang ruang kómputêr, sajaké nyubriyani, têrús dhèwèké ndhêdhêpi. Nyumurupi ruang kómputêr kasíl dibukak, Pak Sarmín katón gêmêtêr, sikilé kåyå dipaku nèng njogan. Pak Sarmín gumún, malíng saiki pancèn pintêr-pintêr tênan, lha wóng ruangan ånå kunciné kók biså dibukak kanthi gampang. Diwanèk-wanèkké, Pak Sarmín nyaút kayu póthólan sikíl kursi, nyêdhaki wóng loro kang mbukak ruang kómputêr, émané praupané wóng loro mau ora katon, amargo ditutupi nganggo topèng. Sawisé cêdhak, Pak Sarmín nggêtak sak rosané, dadi kagèté wóng sakklórón mau.</p>
<p>&#8220;Arêp dhå ngåpå kuwi???&#8221;</p>
<p>Krungu suarané Pak Sarmín, pawóngan síng isíh ånå njåbå kagèt têrús mlayu sipat kupíng. Luwih kagèt pawóngan síng isíh ånå njêro, rikåla mlayu mêtu dhadhané diantêm nganggo kayu sikíl kursi, &#8220;blukk!!!&#8221; tanpa sambat sak nalikå klêngêr, lan njêbabah ånå têras. Nyumurupi síng digêbúg ambrúk, Pak Sarmín tambah gêmêtêr, katón ngós-ngósan, têrús ndhéprók ånå cêdhakké pawóngan mau. Sakwisé gêmêtêré rådå mêndha, topèngé pawongan mau dibukak.</p>
<p>&#8220;Lho&#8230; kók kowé, Parjo!&#8221;</p>
<p>Pak Sarmín sémapút.</p>
<p>::Dening: P Dasihanto FD::</p>
<p>Kapethik saking : Jagad Jawa &#8211; Solopos</p>
<p>http://www.solopos.co.id</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/serengan2.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/serengan2.wordpress.com/68/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/serengan2.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/serengan2.wordpress.com/68/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/serengan2.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/serengan2.wordpress.com/68/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/serengan2.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/serengan2.wordpress.com/68/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/serengan2.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/serengan2.wordpress.com/68/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/serengan2.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/serengan2.wordpress.com/68/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/serengan2.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/serengan2.wordpress.com/68/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=serengan2.wordpress.com&amp;blog=5347431&amp;post=68&amp;subd=serengan2&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://serengan2.wordpress.com/2010/01/20/68/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/22af4f48c20f4a76b9c8db9e63019785?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Danang</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title></title>
		<link>http://serengan2.wordpress.com/2010/01/20/67/</link>
		<comments>http://serengan2.wordpress.com/2010/01/20/67/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 20 Jan 2010 16:58:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Danang</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://serengan2.wordpress.com/2010/01/20/67/</guid>
		<description><![CDATA[Tumbal Sêjatiné abót anggónku nindakaké pakaryan iki. Nangíng piyé manèh. Aku múng sakwijiníng bawahan síng kudu loyal marang atasan. Kamångkå atasanku Drs Sêngkuni SH MBA wís nginstruksèkaké yèn proyèk iki kudu di-mark up. Mbúh piyé carané síng pênting kabèh bisa olèh pangan. Pancèn iki konsêkuènsiné nduwèni jabatan síng stratêgis kåyå awakku iki. Tak akóni sakwisé [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=serengan2.wordpress.com&amp;blog=5347431&amp;post=67&amp;subd=serengan2&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Tumbal</strong></p>
<p>Sêjatiné abót anggónku nindakaké pakaryan iki. Nangíng piyé manèh.</p>
<p>Aku múng sakwijiníng bawahan síng kudu loyal marang atasan. Kamångkå atasanku Drs Sêngkuni SH MBA wís nginstruksèkaké yèn proyèk iki kudu di-mark up.</p>
<p>Mbúh piyé carané síng pênting kabèh bisa olèh pangan.</p>
<p>Pancèn iki konsêkuènsiné nduwèni jabatan síng stratêgis kåyå awakku iki.</p>
<p>Tak akóni sakwisé dadi Kasubag Pêngêlolaan Proyèk iki rêjêkiku mbanyu mili. Paribasan nganti kåyå diwènèh-wènèhi.</p>
<p>Nangíng yèn ånå pêrkårå síng kåyå mêngkéné aku ugå kudu wani ndhadhagi.</p>
<p><span id="more-67"></span>Awít yèn ora, biså dipêsthèkké yèn tahún ngarêp aku mêsthi bakal dimutasi.</p>
<p>&#8220;Wís tå Dík Har, ora sah dipikirké abót-abót. Soal wóng såkå KPK, mêngko aku síng mback-up wís,&#8221; mangkono pangandikané atasanku kasêbút íng sak wijiníng wêktu nalikå aku ditimbali íng ruangé.</p>
<p>&#8220;Síng pêntíng kowé biså ngolah ångkå-ångkå iku kanthi layak.</p>
<p>Masalah liyané mêngko aku síng ngatúr,&#8221; sêsambungé Pak Sêngkuni karo ngêpúk-êpúk pundhakku.</p>
<p>&#8220;Lha piyé kirå-kirå? Åpå Dhík Har kabótan? Soalé Dík Wísnu wingi ugå nawakaké arêp nggarap proyèk iki,&#8221; ujaré Pak Sêngkuni kåyå ngêrti kêmrusuhing atiku.</p>
<p>&#8220;Oh, mbotên Pak. Kulå taksíh sagah ngayahi piyambak,&#8221; ujarku gurawalan.</p>
<p>&#8220;Wèll! yå ngono iku síng tak karêpké. Yèn pancèn kowé sê-visi karo aku, mêsthi aku ora bakal ninggal kowé Dhík. Wís sak iki rampúngna aku péngín Minggu ngarêp wís rampúng. Sanggúp tå?&#8221;</p>
<p>&#8220;Sêndikå Pak,&#8221; ujarku karo manthúk-manthúk.</p>
<p>Aku énggal-énggal ninggalaké ruang kêrjané bós têrús nyêlúk Dhík Wakino wakílku sartó Éndah sékrêtarísku.</p>
<p>Tak jak rêmbugan barêng pêrkårå iki. Awít pancèn wóng loro iku síng dadi nyawaku. Ibaraté Dhík Wakino karo Éndah kuwi think-tank-ku. Sangénggå aku bangêt mbutúhaké bantuané dhèwèké.</p>
<p>&#8220;Nèk masalah ångkå gampang diowahi, Mas. Múng síng dadi masalah iki tanggúng jawabé abót awít nyangkút dana síng ora sêthitík,&#8221; ujaré Dhík Wakino.</p>
<p>&#8220;Nangíng têrús piyé Dhík? Bós wís nêtêpké kudu biså. Yèn ora awakké dhéwé kudu siap ninggalké kantór iki,&#8221; sêmaúrku.</p>
<p>Dhík Wakino manthúk-manthúk karo ngulati layar kómputêr íng ngarêpé.</p>
<p>&#8220;Yå wís, arêp piyé manèh. Mbók mênåwå iki pancèn résiko pêkêrjaan. Awakké dhéwé kudu siap,&#8221; sambungé wóng síng bangêt tak pêrcåyå iku.</p>
<p>*****</p>
<p>Pancèn iki dudu masalah síng ènthèng, awít proyèk iki gungungé mèh nêm bêlas mílyar rupiah.</p>
<p>Síng kudu di-mark up mèh sêpulúh míliar dhéwé. Åpå ora édan-édanan. Nangíng piyé manèh. Aku iki múng bawahan kudu loyal mênyang atasan. Awít yèn ora biså-biså aku dilórót jabatanku.</p>
<p>Kamångkå ngêrti dhéwé kanggo ningkataké karir íng kantór iki ora barang síng gampang.</p>
<p>Awít mèh wólulas tahún anggónku bêrjuang ngrintís karir, wiwít gólóngan têlu A nganti sak iki biså dadi Kasubag sak wijiníng kantór. Mêsthi waé dudu bab síng gampang.</p>
<p>Kåyå aku dhéwé síng wêktu iki kêlêbu ånå bagian síng êmpúk.</p>
<p>Ora sithík síng pådhå kêpéngín biså nglungguhi kúrsiku iki.</p>
<p>Awít pancèn ya nyênêngké tênan. Golèk dhuwít paribasan kêcap waé dadi atusan éwón.</p>
<p>Nangíng ugå mujúdaké bagian síng ånå pucuking êri, yèn ora ngati-ati bisa ndang ngglúndhúng tênan.</p>
<p>&#8220;Durúng saré, Pah?&#8221; panyénggólé Nani, sisihanku.</p>
<p>Ora tak råså yèn wêktu iki aku nêdhêng ngalamún nèng têras kamar lantai loro.</p>
<p>&#8220;Durúng ngantúk, Mah?&#8221; sêmaurku karo nyumêt rókók êmbúh síng kêpira mau?</p>
<p>&#8220;Sajaké ånå masalah nèng kantór?&#8221; pitakóné bojoku síng wís apal lagónku.</p>
<p>Sabên ånå masalah mêsthi tangkêpku dadi séjé karo padatan.</p>
<p>Aku múng manthúk. Têrús sisihanku lunggúh íng sandhíngku.</p>
<p>Awít yèn wís ngono biasané aku têrús critå masalahku marang dhèwèké. Pancèn sak suwéné iki sisihanku síng dadi sparing partnêr-ku.</p>
<p>Dhèwèké kuwi wóng wadón síng istiméwa, sênadyan múng ibu rumah tangga, nangíng otakké ora kalah karo wanita karir.</p>
<p>Ora nggumúnanké sêjatiné sisihanku lulusan sarjana lan mbiyèn tahu dadi dosèn íng univêrsitas swasta.</p>
<p>Múng amargå aku ora kêpéngín bojoku bêrkarir, mula dhèwèké tak kón dadi ibu rumah tangga thók.</p>
<p>Supåyå anak-anakku biså kopèn, nyatané anakku cacah têlu sakiki wís ngancík dhéwåså kabèh, síng mbarêp malah wís mèh lulús såkå univêrsitasé.</p>
<p>***</p>
<p>&#8220;Pancèn abót posisi panjênêngan, Pah. Awít iki diléma.</p>
<p>Yèn njênêngan wêgah, mêsthi bakal dilórót. Nangíng yèn pênjênêngan tindakké, abót résikoné,&#8221; komêntaré sisihanku sak wisé tak critani pêrmasalahanku.</p>
<p>&#8220;Ya kuwi síng gawé bingúngku. Lha trús aku kudu piyé?&#8221;</p>
<p>&#8220;Yúk awakké dhéwé tahajúd, nyoba nyuwún tuntunan Gusti Allah, såpå ngêrti mêngko njênêngan olèh pêpadhang,&#8221; ujaré sisihanku.</p>
<p>Aku manthúk-manthúk têrus wóng loro pådhå tumuju kamar mandhi njupúk banyu wudu kanggo ngrêsiki badan.</p>
<p>Ånå sak jroning tahajúd tak rasakaké kåyå ngåpå jumbal-jumbulé wêwayangan ing alam pikirku. Sênadyan wola-wali tak cobå nyilêmaké wêwayangan iku nanging kråså angèl bangêt.</p>
<p>Sabên-sabên wêwayangané Pak Sêngkuni atasanku kanthi polatan nêsu ngulataké aku. Gonta-ganti karo lapuran proyèk síng kudu tak gawé. Têrús nglambrang manèh wêwayanganku dipêcat déníng atasan.</p>
<p>Têrús ånå gambaran pårå polisi síng têkå ing kantórku têrús mbórgól tanganku.</p>
<p>&#8220;Dúh, Gústi Allah&#8230;&#8230; Kulå pasrah wóntên ngarså padukå!&#8221; pambêngókku íng sak jroníng tahajúd. Bubar kuwi aku ngrasakaké pêndêlênganku pêtêng. Aku ambrúk ngambúng karpèt síng dadi lambaran anggónku ngadhêp íng Pangéran.</p>
<p>*****</p>
<p>Ésúk iki Dhík Wísnu têkå íng kantórku karo mènèhaké layang kanggo aku. Tak bukak layang iku tibaké surat pêrintah såkå Pak Sêngkuni supåyå aku mènèhaké proyèk iku marang dhèwèké.</p>
<p>&#8220;Sorry lho Mas, aku múng nindakaké dhawúh,&#8221; ujaré Wísnu katón pêkéwúh karo aku.</p>
<p>&#8220;Ora åpå-åpå, Dhík. Mbók mênåwå kowé luwíh pintêr timbang aku,&#8221; ujarku karo mènèhaké bêrkas-bêrkas administrasi proyèk.</p>
<p>Sênadyan ånå kang kóbóng íng dhådhå iki, nangíng tak cobå mêkak hardaníng kanêpsónku.</p>
<p>Mugå-mugå waé Gusti Allah tansah mènèhi kêsabaran marang aku.</p>
<p>Awít såpå wóngé síng ora lårå ati, yèn nèng têngah dalan gawéyané dipasrahké wóng liyå. Pak Sêngkuni pancèn kêbangêtên.</p>
<p>Katóné dhèwèké wís malík imané sak ênggå tégå karo aku síng ora liya anak buahé.</p>
<p>Awan iku aku milíh mulíh gasik, awít yèn tak têrús-têrúské nèng kantór bisa-bisa malah aku dhéwé síng ora kuwat.</p>
<p>*****</p>
<p>Aku wís ngrumangsani yèn karirku mbók mênåwå bakal mêntók. Awít wêktu iki Pak Sêngkuni, atasanku ora gêlêm nyåpå arúh marang aku. Sabên-sabên dhèwèké butúh, mêsthi Dik Wísnu síng diundang ånå kantór. Lan tingkah kang kåyå mangkono mau disêngåjå ovêr acting nèng ngarêpé pårå bawahan.</p>
<p>Aku rumångså korban pangråså. Awít såpå wóngé síng kuwat dipêrlakukan kåyå mangkono. Nangíng aku nyoba sabar. Karo íng batin tansah ndêdongå, mugå-mugå Pak Sêngkuni diapurå dosané déníng Gusti Allah, sartå dibukakaké atiné supåyå ora bangêt-bangêt anggóné nêsóni aku.</p>
<p>Lan sak wijiníng wêktu såpå síng bakal ngirå, yèn kantórku ditêkani polisi pirang-pirang. Wiwitané ruangku síng diprikså, barêng ora ånå têrús ruangé Kêpala Kantór bubar kuwi têrús tak tóntón ånå polisi nganggo sêragam nyêrahaké surat marang atasanku kasêbút.</p>
<p>Tanpa suwålå manèh Pak Sêngkuni diglandhang déníng pêtugas kêpolisian iku.</p>
<p>Awít disinyalír dhèwèké wís mark up dhuwít proyèk nganti sêpulúh miliar. Ora múng Pak Sêngkuni dhéwé, kêlêbu Dhík Wisnu síng kumawani nglancangi gawéyanku.</p>
<p>Lan wís biså diwåcå, íng ngêndi papan Kêpala iku ora tahu salah. Síng salah mêsthi bawahan. Awít ora gantalan suwé Pak Sêngkuni bósku wís mêtu såkå kantór polisi.</p>
<p>Déné Dhík Wísnu ditêtêpké dadi têrsangka. Wisnu wís dadi tumbal ing kantórku, awít dhèwèké kudu mikúl dosané bósku síng wêktu iki múng cukúp dimutasi íng luar jawa.</p>
<p>&#8220;Bêgjå sampéyan Pah. Untungé nolak åpå dhawuhé bós mbiyèn,&#8221; ujaré sisihanku karo ngrangkúl aku lan nangís mingsêg-mingsêg.</p>
<p>&#8220;Gústi isíh njampangi awakku, Mah. Lan kabèh mau uga ora uwal såkå dukungané Mamah,&#8221; ujarku.</p>
<p>Ah, pancèn kabèh iki kåyå wís diatúr déníng Gusti Allah. Kåyå aku dhéwé rumångså dislamêtaké déníng Panjênêngané. Coba mbiyèn aku síng nindakaké bab mau, biså-biså aku síng mlêbu kunjaran.</p>
<p>::Dening: Tri Wiyono::</p>
<p>Kapethik saking : Jagad Jawa &#8211; Solopos</p>
<p>http://www.solopos.co.id</p>
<p>Sumber : Jagad Jawa &#8211; Solopos</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/serengan2.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/serengan2.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/serengan2.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/serengan2.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/serengan2.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/serengan2.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/serengan2.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/serengan2.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/serengan2.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/serengan2.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/serengan2.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/serengan2.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/serengan2.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/serengan2.wordpress.com/67/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=serengan2.wordpress.com&amp;blog=5347431&amp;post=67&amp;subd=serengan2&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://serengan2.wordpress.com/2010/01/20/67/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/22af4f48c20f4a76b9c8db9e63019785?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Danang</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title></title>
		<link>http://serengan2.wordpress.com/2009/02/02/59/</link>
		<comments>http://serengan2.wordpress.com/2009/02/02/59/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Feb 2009 14:37:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Danang</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://serengan2.wordpress.com/?p=59</guid>
		<description><![CDATA[Tamu Kang Pungkasan Lakuné dinå rumangsaku cêpêt bangêt, wêktu sêwulan síng diidinaké såkå pêmêrintah rumangsaku lagi dhèk wingi, nangíng ngêrti-ngêrti kari sêdinå iki. Dinå sésúk aku lan kåncå-kåncå sak profèsiku gêlêm ora gêlêm kudu ninggalaké panggónan iki, yå panggónan ålå síng dadi mungsuhé masyarakat síng kêpéngin uripé slamêt donyå lan akhirat. Pancèn wiwitané aku ora [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=serengan2.wordpress.com&amp;blog=5347431&amp;post=59&amp;subd=serengan2&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Tamu Kang Pungkasan</strong></p>
<p>Lakuné dinå rumangsaku cêpêt bangêt, wêktu sêwulan síng diidinaké såkå pêmêrintah rumangsaku lagi dhèk wingi, nangíng ngêrti-ngêrti kari sêdinå iki.<br />
Dinå sésúk aku lan kåncå-kåncå sak profèsiku gêlêm ora gêlêm kudu ninggalaké panggónan iki, yå panggónan ålå síng dadi mungsuhé masyarakat síng kêpéngin uripé slamêt donyå lan akhirat.<span id="more-59"></span><br />
Pancèn wiwitané aku ora sêngåjå mlêbu papan èlèk síng diarani lokalisasi, nangíng kabèh amargå kêpèpèt kahanan, biyåså&#8230; masalah klasik síng diadhêpi pawóngan síng uríp íng padésan, kurang pangan lan sandhang lan ora kuwat ngadhêpi sanggan uríp, gèk kamóngkó síng jênêngé golèk pênggawéyan iki angèlé jan ngêpól tênan.<br />
Åjå manèh aku sakkåncå síng múng duwé ijazah SMP tanpå nduwèni kêtrampilan, sanajan síng wís duwé èmbèl-èmbèl gêlar sarjana waé akèh síng kêcêmplúng ing profèsi iki sanajan bédå kêlasé.<br />
Ora kråså lúh têmètès ing pipiku, uríp kók múng kåyå ngéné, gèk súk kapan aku biså mêntas såkå panggónan iki? Dhúh,&#8230; Gústi Allah paringånå pitudúh mêrgi íngkang lêrês lan pinanggihnå jodho íngkang saé. Aku unjal ambêgan landhúng, gèk kåyå aku iki åpå ånå wóng lanang síng sudi mêngku? Níng aku pêrcåyå yèn Gústi Allah iku ora saré, sakwijiníng dinå mêngko aku bakal kêtêmu jodhoku.<br />
Dak élíng-élíng nasibé kåncå-kåncå sak profèsiku nyatané ugå ånå wóng lanang síng gêlêm ngêpèk bojo. Mbak Éndah dipèk bojo sopír trêk lêngganané malah nyatané saiki biså uríp bagyå múlyå íng ndéså. Dhík Hèsti ugå dipèk bojo wóng lanang sanajan múng dadi mbók ênóm anangíng kabèh kêbutuhané biså dicukupi, Éndang kancaku sak kampúng ugå diwêngku wóng lanang sanajan wís rådå sêpúh yuswané nangíng nyatané gêmati bangêt malah saiki diparingi putrå.<br />
Bubar macak kåyå biyasané aku lungguhan íng têras omah, biyåså,&#8230; mancíng iwak alias nggodhå wóng lanang síng kêpéngin awaké dikêpénakaké sanajan múng sêdhélå, syúkúr yèn gêlêm nginêp sêwêngi, wah&#8230; mêsti bayaran síng dak tåmpå lumayan kanggo sangu mulíh mênyang ndéså.<br />
&#8220;Mampír Mas,&#8221;&#8230; godhaku nalikå ånå sakwènèhíng pawóngan mlaku ijèn karo miling-miling nyawang têras póndhókanku, dhèwèké mèsêm lan gêlêm mampír.<br />
&#8220;Ngunjúk mênåpå Mas?&#8221; ujarku karo nggandhèng tangané dak jak lunggúh íng sandhíngku. Wóng lanang mau manút waé.<br />
&#8220;Biyasané wóng lanang iku sênêngané ngunjúk susu yå, kópi susu åpå coklat susu?&#8221; aku sansaya wani nggodhå, lha wóng síng digodhå yå sansåyå sênêng atiné.<br />
Yå kåyå mêngkéné pênggawéyanku sabên ndinå nglayani tamu síng gêlêm mampír íng kamarku. Wêktu limang tahún uríp íng lokalisasi pancèn akèh bungah lan susahé, nangíng kêpénaké múng watês bab kadonyan, bisa cukúp sandhang lan pangan ora nyambút gawé abót, nangíng rêkasané biså-biså kêtularan pênyakit sifilis utawa AIDS lan dadi mungsuhé masarakat, amargå dianggêp dadi sampah masyarakat síng kudu disírnakaké. Aku isíh kèlingan nalikå lokalisasi iki didhémo warga masyarakat, awakku nganti ndrêdhêg kawêdèn.<br />
&#8220;Lho kók malah ngalamún?&#8221; ujaré wóng lanang síng dadi tamuku iku ngagètaké atiku.<br />
&#8220;Ah, iyå yå bênêr ngêndikamu Mas, lha kêpriyé ora ngalamún, mbók mênåwå panjênêngan iku tamuku íng papan kéné kang pungkasan amargå sésúk aku sak kåncå kudu lungå såkå papan iki.&#8221;<br />
&#8220;Ditêpungaké jênêngku Bagús sanajan rupaku ora bagús,&#8221; mêngkono tamuku mau nêpúngaké.<br />
&#8220;Sunthi jênêngku Mas,&#8221; aku ganti sêmaúr. Priyayiné pancèn grapyak lan akèh gunêmé, lagi têtêpungan kurang såkå limang mênít waé rasané wís biså akrab.<br />
&#8220;Aku mréné pancèn golèk kênangan kang púngkasan såkå papan lokalisasi iki, aku ngajab papan iki pancèn biså rêsík såkå tumindak maksiyat,&#8221; mêngkono ujaré Mas Bagús. Sak jam luwíh aku lan Mas Bagús ngóbról ngalór ngidúl, lan pungkasané Mas Bagús pamitan arêp mulíh mênyang omahé. Dhèwèké ninggali dhuwít aku sing lumayan akèh lan njalúk jênêng lan alamat omahku síng sakbênêré.<br />
****<br />
Anèng ngomah rasané kåyå dikunjåra waé, la kêpriyé ora susah, la anèng ngomah yå múng thêngúk-thêngúk waé tanpå duwé gawéyan síng ngasilaké. Dhuwít cèlènganku wís wiwít nipís, rasané ati wís kêtar-kêtir, dumadakan pak pós mandhêg anèng ngarêp omah, ngêtêraké layang såkå Mas Bagús, dhúh,&#8230; bungahé ati iki, såpå ngêrti mbésúké Mas Bagús biså ngêntasaké aku såkå uríp kang nisthå iki. Layang dak bukak kanthi alón, ånå råså bungah lan ati iki tambah dêg-dêgan waé.<br />
&#8220;Dhík Sutinêm síng dak trêsnani,&#8221; mak dhêg rasané atiku kaya diumbúllaké karo Mas Bagús. Pancèn jênêngku síng asli iku Sutinêm, nangíng ing lokalisasi aku nganggo jênêng &#8220;Sunthi&#8221;, layang dak waca kanthi ati kang dêg-dêgan<br />
Surabaya, 12 Désèmbêr 2007<br />
&#8220;Dhík Sutinêm síng dak trisnani&#8221;<br />
Wiwít kêtêmu karo sliramu ing papan kånå kaé, aku dadi kêpingín omah-omah karo sliramu. Bab såpå tå sliramu aku kabèh wís mangêrtèni, nangíng åpå sliramu ngêrtèni aku lan såpå tå sêjatiné aku iki? Barès waé ya dhík, aku iki wóng lanang síng ora bédå karo sliramu. Tumindak nistå lan ålå kabèh waé wís naté dak tindakaké. Nangíng aku péngín marèni kabèh mau sakdurungé kasèp.<br />
Mula yèn sliramu gêlêm dak jak uríp bêbarêngan nyabrang íng samodrå bêbrayan agúng, ayo dhík wangsulana layang iki, gêlêmå Dhík Sutinêm dak jak uríp anyar íng sakjêroníng balé somah kang rêsmi lan ayo pådhå uríp kang anyar, uríp kang kêbak laku utåmå sanajan múng uríp sarwå prasåjå, wís bèn lêlakónmu lan lêlakónku dikubúr barêng-barêng lan dilarúng íng samodra pangapurå.<br />
Aku ora njanjèkaké uríp kang moncèr kêbak kêméwahan donyå, nangíng aku pêrcåyå yèn aku karo sliramu biså uríp bagyå múlyå. Sêpisan manèh, aku ora mêkså nangíng aku têtêp nunggu walêsan layang iki bèn atiku bisa têntrêm.<br />
Såkå kåncå anyarmu síng nêmbé kasmaran.<br />
Bagús<br />
Ora kråså, kacu cilík wís têlês kêbês êlúhku, bisaku múng pasrah jiwå lan rågå marang Mas Bagús.<br />
Sunaré srêngéngé wayah ésúk íng Suråbåyå nambahi éndahíng swasånå balé somahku. Kêmbang kênångå íng ngarêp omahku nyêbaraké gåndå kang arúm. Cêpêt-cêpêt aku dandan sak pêrlu arêp ngêtêraké Panji anakku mbarêp såkå titisané Mas Bagús kang saiki makaryå dadi móntír sêpéda mótór, Allahuakbar,&#8230; laillahaillallah, alhamdulilllah pujiku marang Pangéran Kang Maha Kuwasa.</p>
<p>::Dening: Sumédi::<br />
Kapethik saking : Jagad Jawa &#8211; Solopos</p>
<p>http://www.solopos.co.id</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/serengan2.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/serengan2.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/serengan2.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/serengan2.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/serengan2.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/serengan2.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/serengan2.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/serengan2.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/serengan2.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/serengan2.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/serengan2.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/serengan2.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/serengan2.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/serengan2.wordpress.com/59/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=serengan2.wordpress.com&amp;blog=5347431&amp;post=59&amp;subd=serengan2&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://serengan2.wordpress.com/2009/02/02/59/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/22af4f48c20f4a76b9c8db9e63019785?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Danang</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
